Hai... hai!!
Yeah, akhir perdana posting cerita di blog ini. Sebenarnya Zik ada blog lain juga, hanya saja itu lebih fokus ke tema bebas ya!!. Boleh kok nanti  teman-teman semua lihat, tapi nanti ya.. Zik tampilkan di akhir cerita. Biar penasaran gituch!, Hehehehe.

Ngomong-ngomong di blog ini kak Zik  sepertinya fokus kepada traveling, Hotel Review, Event Review atau Kuliner gitu. Fleksibel sich. Mana yang akak rasa cocok dan tepat akan akak posting disini. 

Teman-teman harus selalu baca ya plus komen, biar Zik semakin semangat menulis dan menulis sampai berjuta-juta kata. 😍😍

Baiklah, sesuai judul yang telah Zik buat diatas Zik akan cerita tentang pengalaman Zik hari Minggu lalu tanggal 03 November, tentang perjalanan perdana ke sebuah pulau kecil disebuah daerah di Langkat. Sebenarnya dikatakan pulau juga belum tepat karena sebenarnya bukan pulau seperti bayangan banyak orang,  dari dermaga ke Pulau ini  masih terlihat jelas semua pemukiman warga namun tidak memungkinkan juga menuju ke Pulau tersebut dengan berenang, hehehe.
Peta Langkat dari Google.com

Oia, teman-teman pernah dengar nama tempat Brandan atau Pelawi di Kabupaten Langkat? Belum pernah ya? artinya belum jauh ya raun-raunnya.. hehehe. Yuk.. sini Zik anterin ke sana. Hehehehe.

Jadi, Langkat ini adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara, dimana banyak sekali daerah atau lokasi yang masih belum diekplor oleh para traveler. Informasi seputar Langkat bisa di baca dan dicari informasinya di web ini semua tentang Langkat.

Nah, lokasi yang akan akak ceritakan adalah PERLIS, yups namanya sama seperti salah satu negeri di Negara Malaysia. Konon nama daerah ini dinamakan dengan nama tersebut karena letak PERLIS sangat dekat dengan kepulauan Semenanjung Malaysia. 
Gambar diambil dari Google.com

Baiklah, tanpa basa basi yang rumit Zik mulai aja ya cerita ini. Minggu, 3 November lalu Zik dan ummi (ibuku) diundang oleh salah seorang sahabat baik Zik, Kiki  atau Zik memanggilnya Iki untuk hadir di pernikahannya, Kiki adalah sahabat baik akak saat masih berkuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara  (UinSu) sebelum Zik merantau ke Batam.

Perjalanan kami berdua tidaklah sulit, malah sangat amat lancar sekali. Tepat jam 8, sudah selesai bersiap dan rencananya Zik dan ummi akan berangkat kesana bersama Hazni dan Rosma, mereka berdua adalah kedua teman Zik dikelas yang sama dengan Kiki dulu, akan tetapi entah kenapa mereka berdua terlambat lewat dari jam yang dijanjikan berhubung ummi tidak sabar menunggu akhirnya akak dan Ummi pergi dahulu menuju Pinang Baris mengunakan kereta tepat jam 9 pagi. 

Kami berdua mengisi perut sebentar dikios yang menjual sarapan Pagi diseberang Toko Roti Mawar. Ummi memesan lontong sedangkan Zik memesan nasi putih lauk ayam Rendang karena nasi gurih habis. 

Usai sarapan, Zik dan ummi bergegas ke arah mobil Timtak (sebutan mobil khusus untuk jurusan Medan Brandan), dengan harga ongkos Rp. 15.000,-/ orang. Timtak merupakan mobil kijang APV dengan warna body biru langit cerah dan ada line putih sebagai tambahan warnanya.
Mobil Timtak (Dari Google.com)

Bangku didalamnya ada 3 baris dengan maksimal jumlah penumpang, 2+3+4+4/5 = 2 depan sebelah supir, 3 dibelakang supir, 4 dibelakang nya lagi, dan jika membawa anak kecil dibelakang bisa 4 atau 5, padahal biasanya mobil itu sewajarnya setiap baris 3 orang saja. 

Bisa dibayangkanlah bagaimana sempitnya. Satu lagi ciri khas timtak adalah penumpangnya rajin berdoa. Waktu tempuh Medan Brandan biasanya 2 jam, namun dengan timtak dan supir yang berbeda maka waktu tempuh bisa jadi lebih cepat. Hal ini karena supir timtak selalu memaksa melaju bak roket dijalanan Medan-Binjai-Stabat-Brandan yang amat sangat padat. 

Padahal jalur menuju Brandan ini jalur lintas Sumatera seharusnya keselamatan lebih diutamakan, karena banyak kontainer dan tronton atau truk yang ikut melaju disisi kanan kiri timtak, tapi karena si supir harus mengejar target trip berkali-kali dalam sehari jadi mereka berusaha sampai di Brandan dalam waktu 1 jam atau 1 jam 45 menit. Amazing!.

Kembali ke kisah Pulau Perlis. Ummi sudah masuk kedalam timtak, sedangkan Zik harus menitipkan kereta (bahasa Medan motor) ke tempat khusus penitipan kereta yang berada tepat disebelah Simpang 4 Sei Mencirim. Jika kalian berjalan dari arah Mall Manhattan, kalian bisa berjalan terus sampai melewati gerbang besar jalan yang ada tulisan "Selamat datang ke Kota Medan" itu lalu berjalan terus ke arah simpang Sei Mencirim, nanti akan terlihat Apotik dan tepat disebelahnya ada "Tempat Penitipan Kereta". 

Tempat penitipan kereta ini khusus untuk warga Medan yang bekerja sehari-hari di Langkat, Binjai, Stabat setiap harinya atau yang ingin ke Langkat dan menginap. Tarif menginap kereta semalam adalah Rp. 6.000,- dan untuk tarif pagi ke malam hanya Rp. 3.000,-. Kalian akan diberikan sebuah kertas kecil dengan gantungan karet dan nomor yang sama dengan kartu yang digantungkan di spion kereta kita.

Petugas yang menjaga ada 2 orang, sepasang suami istri. Mereka yang akan menjaga kereta kita, jam buka penitipan ini sampai jam 11 malam. Ada nomor telepon yang bisa dihubungi jika ingin konfirmasi keterlambatan pengambilan kereta (hanya saja kak Zik lupa menjepret tempat ini). 

Bisnis yang menjanjikan sekali tempat penitipan kereta ini. Sehari biasanya 100-150 kereta dititipkan disitu. Kalau sebulan bisa sampai jutaan ya duitnya. 
Lorong Gandi menuju Dermaga Pelawi 

Kami tiba di Brandan tepat jam 12.30 siang, dari kejauhan terdengar azan. Timtak berhenti tepat didepan LORGAN, atau disebut Lorong Ganteng..eh..bukan tapi Lorong Gandi dari lorong Gandi berjalan beberapa langkah ke dermaga dan terlihat beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak berpenampilan rapi dan cantik seolah hendak ke acara formal. Sepertinya mereka juga diundang ke pesta Iki.
Area tunggu dengan atap fiber yang suudah rusak

Zik dan ummi duduk disisi kiri dermaga dibawah atap fiber yang sudah bolong hampir disetiap rangkanya. Tempat duduknya seperti halte bus dengan keramik putih menutupin bangku semen tersebut. Sebuah pemukiman warga telihat jelas diseberang.

Dari dermaga menuju Pulau Perlis, bisa menggunakan sampan atau boat dengan ongkos Rp. 3.000,-/ orang. Kapasitas maksimal perahu atau sampan ini adalah 15-25 orang saja. 


Warung Kopi yang kami singgahi 

Sesuai info dari adik Iki kami tidak naik boat itu, Iki sudah menyediakan boat khusus untuk para undangannya dan  kami semua harus menunggu sampan atau boat yang ada umbul janurnya, jika belum nampak didermaga ditunggu saja. Hampir 2o menit menunggu dibawah atap fiber yang bolong, beberapa orang yang ingin berangkat kesana juga ikut duduk disitu menikmati bahangnya panas siang itu. 


Sempit dan panas serta haus, akhirnya Zik dan ummi beringsut ke arah warung kopi yang ada didepan kami. Ramai bapak-bapak didalamnya sedang nongkrong dan menikmati kopi. Zik dan ummi mengambil tempat duduk menghadap ke arah pintu keluar. Ummi memesan segelas teh manis dingin dan Zik hanya mengambil sebungkus kacang goreng. Tidak lama terdengar suara boat, dan ternyata boat dengan umbul-umbul yang dimaksud adek Iki. Kami membayar Rp. 4.000,- untuk teh manis dingin dan Rp. 1.000,- untuk kacang goreng tadi. 


Suasanan di atas boat yang ada umbul-umbul 

Zik dan Ummi bergegas turun ke dalam boat, cukup sulit karena tidak ada tangga khusus hanya batang besi ukuran 20 inch saja, licin dan agak curam. Terpaksa memegang tangan abang boat, daripada Kak Zik jatuh dan nyebur ke laut tiada yang menolong karana daku berat, hahaha. 

Ada 20 orang dewasa dan beberapa anak kecil yang berangkat menuju Pulau Perlis, kami melintasi air laut yang sedang surut menuju Perlis dan hanya 10 menit kami tiba didermaga Pulau Perlis. Naik menuju dermaga sama seperti saat turun dermaga tadi, menggunakan  4 batang besi curam sebagai tangga. 


Tangga naik ke Dermaga Pulau Perlis

Ada beberapa orang yang ingin turun ke boat yang merapat disebelah kami.  Beberapa pemuda tampan juga sempat terlihat oleh mata ini, Hehehehe. Zik Hanya mampu melirik tak mampu memiliki. Perkara melihat babang segar akak juaranya. Astaghfirullah, zina mata ya.

Kami berdua naik ke dermaga dan menyusuri jalan setapak dari dermaga menuju lokasi pesta.

Hampir setiap rumah yang akak lalui mempunyai ciri khas rumah pantai, dengan tiang-tiang dibawah rumah yang menancap kuat didalam air. Saat itu air sedang surut jadi tidak ada ir laut dibawah rumah warga. Rumah dipulau ini hampir semunya terbuat dari kayu, hanya sebagian saja yang dibangun dari beton, jalan setapak ini hanya berukuran 1,5 meter cukup untuk 2-4 orang berjalan. 

Jalan yang dilalui juga tidak sepi, beberapa warga duduk santai di teras rumah dan menyapa beberapa tamu yang melintas termasuk kami.  Sebagian warga ada yang juga menjemur ikan asin di depan rumahnnya. Ikan asin mahal kata ummi. Zik mengangguk sajalah karena Zik hanya tahu makannya tidak tahu nama ikannya.

Zik sebenarnya tidak tahu alamat rumah Iky tapi karena ada tamu yang berangkat  bersama kami, maka kami berjalan dibelakang mereka. Mengikuti arah mata angin bergerak. Eh! πŸ˜„

Panas terik menambah bulir keringat dikening, luntur sudah makeup glow,  jalan setapak yang kami lalui semakin mengarahkan kami ke arah suara musik dangdut yang terdengar semakin jelas suaranya.

Tiba-tiba disisi kiri terlihat sebuah spanduk dengan gambar wajah Iky dan suaminya berukuran 1x2m terpampang besar mengarah ke sebuah tikungan. Kami berdua berjalan ke kiri dan sebuah welcome gate dengan rangkaian bunga menyambut kami. Ada Musholla di sisi kanannya, dan disisi kiri adalah rumah Iky. Ramai orang-orang yang sudah hadir.





Alhamdulillah kami tiba di lokasi dengan selamat, semerbak harum ikan Tongkol bakar tercium kuat dari asap yang berterbangan diarea itu, ternyata tuan rumah menyiapkan Ikan Bakar khusus untuk para tamu. Dalam hati Zik menyesal kenapa Zik sarapan dulu, kalau tidak akak Zik bisa ngisi tangki lebih banyak di acara pesta Iky, hehehe tanpa babibu Zik langsung ikut antrian untuk mengambil jamuan yang dihidangkan tuan rumah. 

Ada Ikan bakar, sambal terasi, rendang, tauco udang, sayur jakarta, sayur sop, kerupuk dan Aqua terhidang di meja hidang, sedangkan disisi kanan ada minuman Es Timun dan di pondok jajanan disebelahnya ada Bubur Pedas dan Lontong kacang khas melayu. Aish.. sedap mak.. hahhaa ..

Jadi, di Brandan ada 2 tempat yang disebut Pulau, Pulau Perlis dan Pulau Kelantan. Nah, kalau acuan kita di dermaga tadi maka kita akan menggunakan boat yg sama untuk ke dua pulau ini. Jika ingin ke Pulau Perlis maka boat akan ke arah kanan. Jika ingin ke Pulau Kelantan maka boat akan bergerak ke arah kiri. Secara geografis letak Pulau Perlis masih tergolong pulau yang memiliki daratan sebagian rumah warga berdiri kokoh diatas daratan sedangkan Pulau Kelantan tidak memiliki daratan, dibawah rumah warga hanya hamparan air laut. 


Pemukiman yang ada diseberang adalah Pemukiman warga Pulau Kelantan

Zik dan Ummi hanya setengah jam di Pulau Perlis karena akak dan ummi harus kembali ke Pelawi karena ummi ada rapat untuk persiapan acara  maulid di SMAN1 bersama teman-teman SMA. Saat sedang menyantap makanan Zik dan ummi bertemu Pak Rahmat salah seorang teman ummi yang sangat akrab dengan ummi. Beliau bersama istrinya dan seorang ponakan perempuan berusia 10 tahun. Pak Rahmat adalah paman Iky di Medan  dan sangat dekat dengan Iky.

Selain hidangan utama, Iky juga menyiapkan air es timun sirup Melon, Lontong kacang melayu dan Bubur Pedas Pelawi masakan khas Melayu untuk menu pondok jajanan. Bubur pedas adalah makanan favorit ummi, Zik mengambil seporsi untuk ummi lengkap dengan Es Timun sirup Melon. Maaf tidak difoto karena segan ada tamu yang lain melihat kelakuan blogger neubi ini, hahhaa.

Bubur Pedas ini komposisinya adalah sayur anyang, yaitu sayur pakis rebus yang diaduk dengan bumbu khusus beraroma kepala gonseng dan potongan serai ditambah cabai iris dan bawang serta bumbu lainya sedangkan bubur pedasnya dibuat dari kentang, jagung, wortel dipotong dadu dan diaduk didalam bumbu yang diolah kental berwarna coklat. Orang Melayu suka membuat masakan ini. Ummi menikmati dengan lahap bubur ini karena menurut beliau bubur ini sangat enak. 
Bubur Pedas saya ambil dari web Riauberbagi.blogspot.com

Saat Iky melihat Zik, dia tersenyum sumringah dan begitu terharu karena kak Zik mengusahakan untuk datang jauh dari Medan, Iky seperti biasa memeluk dengan hangat dan mengenalkan suaminya yang juga perantau Batam, Iky mengajak berfoto. Setelah Berfoto dan berselfie ria kak Zik berpamitan, Iky memeluk Zik dan beberapa kali mengucapkan terima kasih karena Zik mau datang. 


Kak Zik yang harusnya berterima kasih karena sudah dikasi jamuan enak dan ikan bakar khas Pulau Perlis yang memang mengandalkan Seafood (makanan laut) sebagai ciri khasnya, Ikan Bakarnya enak maknyus. Hehehe. Berpamitan dengan Iky kami berlalu pergi keluar dari area hajatan. Sebelum kembali ke Medan. akak dan ummi dipelawa atau diajak Pak Rahmat untuk pulang bersamanya. 

Ternyata beliau berasal dari pulau ini, masa kecilnya dihabiskan dipulau ini. Kami diajak mampir kerumah adik beliau sekaligus rumah masa kecil beliau. Dalam perjalanan kerumah beliau Zik melihat ada beberapa ekor anak biri2 yang menggemaskan. Perlahan mengendap-endap akak mencoba menangkap si bayi biri-biri tapi sayangnya si biri-biri lari ketakutan menghampiri ibunya daku tak sanggup mengejarnya karena doi menuju mamanya. Zik takut nanti malah disosor. 

Rumah masa kecil Pak Rahmat terlihat sedikit modern dari rumah lainnya, ternyata sudah direnovasi. Dinding luar setengah beton dan kayu, bagian dalamnya diberikan sekat triplek namun tinggi dinding sekat tidak mencapai palfon rumah. Ada 3 kamar didalam rumah tersebut dan 1 kamr mandi. Ruang tamu seukuran 2x2 dan dapur dengan luas 2x3m.

Minum Es teler sejenak, kami lalu berpamitan kepada adik Pak Rahmat dan  bergerak ke dermaga untuk pulang kembali ke dermaga Lorong Gandi tadi. Sesaat Zik mendengar suara anak biri-biri berteriak nyaring mencari ibunya, warnanya putih, bersih dan lucu sedang mencari ibunya dan tanpa fikir panjang akak berlari pelan menghampirinya dan Hap! Zik menangkapnya dan sempat memeluknya sayang sekali momen ini tidak sempat terekam kamera. 

Pastinya rasa penasaran memeluk dan memegang bayi biri-biri sudah terpenuhi. Tidak bau dan empuk. Hanya sekejap akak lepaskan si bayi dan membiarkannya berlari ke arah ibunya dan abangnya (sok tauπŸ˜ƒ) yang sedang melihat dari jauh. 😍

Pak Rahmat menghubungi temannya untuk meminta tolong mengantarkan kami ke dermaga Pelawi. Sambil menunggu boat merapat kami berfoto sebentar dan berlayar kembali ke dermaga Pelawi (asek bahasanya) 😁. Beberapa anak sedang asyik bermandi ria di tepi dermaga, mereka ada sekitar 8 orang anak, melompat girang dari anjung boat yang sedang merapat. 
Ibu Berhijab biru adalah adik Pak Rahmat yang menetap di Perlis

Ada satu point yang saya sukai,  ada beberapa anak ingin melompat dari sebuah boat yang berukuran agak besar, dimana si pemilik boat sedang merapikan badan boat dan jaring-jaring ikan yang masih berantakan dilantai boat, salah satu dari mereka memanggil si pemilik dengan teriakan halus dan meminta izin dengan sopan untuk boleh diizinkan melompat dari anjungan boat miliknya. 
Anak yang bercelana hitam itu yang saya ceritakan

Benak saya tersentuh, padahal sebenarnya tidak perlu izin juga para pemilik boat sudah maklum dan sudah biasa dengan tingkah anak-anak setempat yang hobi berenang dan melompat terjun ke air dengan berbagi atraksi dari anjungan kapal. Namun anak ini berbeda, terbukti orang tuanya mendidiknya dengan baik. Masyaallah.

Jujur hal itu jarang sekali dilakukan anak jaman sekarang, anak-anak milenial yang tinggi ilmu tapi kadang minim budi pekerti. 

Setelah menunggu beberapa menit, boat yang ditunggu tiba dan kami pun turun menggunakan tangga besi yang curam sama seperti saat pergi, akak terpaksa memegang tangan abang supir boat (eh apa ya istilahnya) daripada tergelincir, menyusahkan orang lain kalau hal itu terjadi dan seharusnya ongkos yang dikenakan Rp. 3.000,-/orang tapi karena anak solehah kami cukup duduk manis dan Pak Rahmat yang membayarnya.

Kali ini hanya kami berlima saja isi boat tersebut dan beberapa bocah kecil yang tadi mandi ria di tepi dermaga juga ikut berlayar (apa sih!) bersama kami, sambil duduk merapat dengan wajah dan badan yang masih basah mereka duduk berdempetan. Sesekali akak mengarahkan kamera dan mereka bergaya polos dengan tawa sumringah. πŸ˜ƒ


Ada satu momen yang akak videokan, mereka berteriak "ANAK PERLIS, YEAH!" nanti akan akak cantumkan videonya di Youtube, mengeditnya makan waktu juga ini. Hehehehe πŸ˜„

Saat supir boat hendak menyalakan mesin boat, entah kenapa mesinnya menyalah dan tidak mau hidup, kementelan mesinnya tidak mengizinkan kami pulang. Beberapa kali dicoba diputar mesinnya dengan tali kambing, akhirnya mesin boatnya hidup dan teriakan bocah-bocah tadi terdengar riang, karena akhirnya boat bisa bergerak pelan menuju Dermaga Pelawi


Suasana sore itu berbeda dengan tadi siang, semilir angin menghembus wajah kami, selendang dan hijab yang dikenakan sempat beralun lembut dihembus angin sepoi-sepoi. Deru mesin boat memecah keheningan, akak, ummi, Pak Rahmat, keponakan beliau, istrinya dan seorang kerabat ikut serta dalam boat itu dan kami bergerak pelan menuju Dermaga Pelawi dengan waktu tempuh lebih lambat yaitu 15 menit karena air mulai pasang.

Sampai di Dermaga Pelawi kami naik dan berpamitan dengan teman Pak Rahmat yang mengantarkan kami tadi. Kami bergerak keluar area dermaga dan melewati Lorong Gandi untuk keluar menuju area parkiran mobil Pak Rahmat.
Lorong Gandi menjadi sempit karena sisi kanan kirinya dipenuhi kereta (motor) titipan orang yang ke Pulau Perlis atau ke Pulau Kelantan.




Area parkiran mobil ini bukan area parkiran luas hanya area kosong disisi pajak atau pasar yang ada disitu. Jadi sebaik kita keluar dari Lorong Gandi kita akan menemukan pasar tempat berbelanja bahan-bahan makanan sayur dan segalanya tapi hanya dibuka bebas dan ramai dari subuh  hingga menjelang pagi hari.

Alhamdulillah usai kewajiban memenuhi undangan dari Iky yang rela datang kerumah mengantarkan undangan pernikahannya, dan akak pun berangkat bersama ummi dan Pak Rahmat menuju acara rapat musyawarah alumni mereka. Alhamdulillah jalan-jalan kali ini pun selesai. Hehehe 😍

Bagaimana jalan-jalan akak kali ini, termasuk jalan-jalan murah ya? 

Apakah ayang beb sekalian tertarik untuk eksplor ke Pulau Perlis juga? 

26 Komentar

  1. Tertarik. Mungkin nanti atur waktu dan duit juga mbakπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. Jauh juga undangannya ya dek zik. Adat istiadat masih melayu banget. Dan senang liat anak-anak yang masih menjaga sopan santun khas budak melayu, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. jauh kak.. sampai haus berkepanjangan. Melayu sangat dia kak hihi

      Hapus
  3. Wahh, jadi nostalgia, soalnya dulu aku menghabiskan masa kecil di pangkalan branda bertahun-tahun. Tp selama di sana, nggk pernah sekalipun nyebrang ke perlis hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh, seriusan engko anak brandan? akak juga dulu TK dibrandan, TK Muhamadiyah. Rumah kami dulu depan masjid yang sebelah gang datuk yang sekarang udah direnov jadi restoranhorang kaya itu hahaha akak aja baru sekali ke

      Hapus
  4. Kalau liburan kesana butuh berapa hari, Dika?

    Baca ini tulisan, Aku pengen nyoba makan tauco udangnya dan lontong kacang melayu deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha pas pesta aja ada itu hahahah lontong kacang melayu aku bisa buat, cem dii malaysia rasanya.. mungkin engko boleh belik bahannya bg.. biar dibuatkan sekilo haha

      Hapus
  5. Wuah keren. Seru banget Mbak. Airnya masih jernih lagi. Jadi pengen ke sana juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jernih seperti milo sedikit hahahah .. boleh-boleh bawak duet banyak biar pulang belik ikan asin mahal

      Hapus
  6. Sungguh wangi si bedak pilis
    Utk org melahirkan dipakaikan keluarga
    Sungguhlah indah si Pulau Perlis
    Ingin hati bekunjung ke saja juga

    Keren tulisannya, Dika... Senangnyalah ngetrip bareng ummuki yaa,, kk pernah jg dl sm mamak cem gitu,, seruu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahhaha tulah kak, sama mamak ni seru sikit klo berdua hahha klo berlima sam abg dan adik yang dua lagi dah gak seru tapi rame kak yang ada hahaha mumpung beliau masih hidup awak ngetrip dl sering2

      Hapus
  7. Kirain perlis cuma ada di Malaysia dika.. Ngemeng Ngemeng kmrn gadak kue rasidahnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tak kak ..perlis Langkat. Tak de kue tu padahal dah terbayang enaknya

      Hapus
  8. Asyek.. 😍jadi treveling blogger ya kk. Baru tahu aku pulau perlis ini kak. Hehehe.. kalau aku rada bakal deg-degan ke sana naik perahu begitu. Soalnya gak bisa berenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya allah apakan lagi diriku hah ayang berat tapi kalo tenggelam bukan dittolong hahha tp sekali2 boleh lah

      Hapus
  9. Aihh seru banget perjalanannya kali ini. Ini namanya menyelam sambil minum air, traveling sambil ikut hajatan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ikan bakar paling dikejar hahha ikan bakar diluar malah ya kan kak. haha iya dah lama denganr tetg tempat ini dan baru sekali kesini kak

      Hapus
  10. Kapan kapan deh kak ak kesananya ya wuehehe, lagi nyibuk banyak laporan sekolah hhuw

    BalasHapus
    Balasan
    1. wwkakaka udah ke tangkahan aja ama bg alfie lebih bagos tempatnya hahha ada gajah mandi mandi haha

      Hapus
  11. Undangannya jauh kali ya kak, pakai naik kapal. Aku belum pernah ke Perlis walau sudah lama tinggal di langkat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ish haha cepat kak kesana nanti keburu dibuat jembatan ama pak jokowi hahaha

      Hapus
  12. Inilah enaknya jauh berjalan bnyk dilihat,, btw kan aq senang x dpt Undangan ke pelosok2 desa gini,, lain gt suasananya. Sukalah pokoknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak sama,, dika penasaran menu makananya haha ternyata ada beda nya lah hahah ikan bakar hahha a

      Hapus
  13. Zik, Pulau Pelawi ini kaya Pulau Belakangpadangnya di Batamlah yak? hahaha

    Gimana rasanya naik angkot Timtak Zik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, tapi masih lebiar jalan dibelakang padang, masih cantik semua2 diblakang padang kak. masih banyak kebutuhan pulau ini kak.

      Hapus